Senin, 17 Februari 2014

Judul Qurban dan Aqiqah



QURBAN DAN AQIQAH

A.     QURBAN
Menurut bahasa, qurban berarti mendekatkan diri. Sedangkan menurut istilah, qurban berarti menyembelih hewan pada hari raya idul Adha dan hari tasyrik, yaitu tanggal 11,12 dan 13 Zulhijjah dengan maksud beribadah kepada Allah Swt.
Qurban merupakan istilah yang menunjukkan tujuan dari suatu ibadah, yaitu mendekatkan diri kepada Allah. Dalam ilmu fiqih, selain istilah qurban terdapat beberapa istilah lainnya, yaitu nahr dan udiyah.yang memiliki arti yang hamper sama, yaitu az zabhu atau menyembelih hewan. Dua istilah ini lebih menunjukkan praktek ibadah kurbanyang disari’atkan, waktu pelaksanaan ibadah ini disebut yaumun nahri atau lebih dikenal dengan Idul Adha. Dalil yang mengsariatkannya qurban adalah firman Allah. QS A-kausar 108: 1-2

“Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu nikmat yang banyak. Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu; dan berqurbanlah.” QS A-kausar: 1-2
a. Ketentuan Qurban
1.      jenis hewan qurban
hewan yang sah untuk diqurbankan adalah hewan yang tidak cacat, baik karena pincang, sangat kurus, putus telinganya, putus ekornya, atau kerena sakit. Tidak semua hewan dapat digunakan untuk qurban. Hewan yang dugunakan untuk qurban teah ditentukan jenis-jenisnya, yaitu:
     1.      Domba, yang telah berumur 1 tahun atau lebih.
     2.      Kambing, minimal berumur 2 tahun atau sudah berganti gigi
     3.      Sapi dan Kerbau, minimal berumur 2 tahun.
     4.      Unta, minimal berumur 5 tahun.

2.      Waktu Pelaksanaan Qurban
Melaksanakan ibadah qurban hanya boleh dilakukan pada tanggal 10 Zulhijjah dan hari tasyrik, yaitu tanggal 11, 12 dan 13 zulhijjah.dimulai sejak selesai shalat Idul Adha sampai menjelang matahari terbenam tanggal 13 zulhijjah.
3.      Cara Pembagian Daging Qurban
Hewan qurban yang telah disembelih, tidak lebih dari 1/3 dagingnya boleh diambil oleh orang yang berqurban. Sedang yang lainnya dibagikan kepada mustahik qurban
4.      Berqurban Secara Jama’i
Berqurban jama’i adalah berqurban dimana seekor hewan untuk beberapa orang. Berqurban secara jama’i juga pernah dilakukan oleh Nabi dan para sahabat, yaitu dengan ketentuan seekor sapi, kerbau atau unta untuk maksimal tujuh orang. Praktek pelaksanaan qurban secara jama’i biasanya sering dilakukan pada kantor tertentu atau rumah tertentu.

B.     AQIQAH
Menurut bahasa, aqiqah berarti menyembelih atau memotong. Sedangkan menurut istilah, aqiqah adalah menyembelih hewan sebagai rasa syukur kepada Allah atas kelahiran anak. Penyembelihan hewan aqiqahini disertai dengan pencukuran rambut anak dan pemberian nama jika dilaksanakan sebelum diberikan nama.
a.  Ketentuan Aqiqah
1.      Jenis Hewan Aqiqah Dan Jumlahnya
Sebagai hewan qurban, hewan aqiqah disyaratkan tidak cacat. Hanya saja, jika pada qurban ada beberapa jenis hewan, pada aqiqah hanya ada satu jenis hewan, yaitu kambing, baik kambing biasa, domba atau biri-biri. Adapun jumlanya, dua ekor untuk eorang anak laki-laki, dan seekor untuk anak peremuan.
2.      Waktu Pelaksanaan Aqiqah
Waktu pelaksanaan aqiqah adalah pada hari ketujuh dari kelahiran anak, sehingga waktu ini disebut sebagai waktu terbaik untuk pelaksanaan aqiqah, namun juga bisa dilakukan ada haru ke empat belas dan pada hari ke dua puluh satu dari kelahiran bayi.
3.      Cara Pembagian Daging Aqiqah
Daging aqiqah dibagikan setelah dimasak terlebih dahulu dan anak yang di aqiqahkan tidak boleh memakan daging aqiqah tersebut. Namun bagi anggota keluarga lainnya dibolehkan mengambil bagian seperlunya. Dalam praktek di masyarakat, terdapat dua cara pembagian aqiqah, yaitu melalui walimah yaitu sejenis jamuan syukuran dengan mengundang kerabat dan tetangga,dan bisa berupa maksakan daging aqiqah lengkap dengan nasi dan lauk pauk.


B.     Melaksanakan Qurban Dan Aqiqah
Meskipun hukum qurban dan aqiqah ini sunah, tetapi sunah muakadah (sunah yang amat dianjurkan untuk dilaksanakan) bagi orang-orang yang mampu. Ibadah qurban dan aqiqah ini selain besar pahalanya di sisi Allah Swt. Juga sangat erat kaitannya dengan aspek kemanusiaan Khusus untuk aqiqah hanya dianjurkan satu kali seumur hidup.
C.    Penyembelihan
Binatang-binatang halal menurut syara’, dagingnya akan halal dimakan apabila disembelih menurut ketentuan ajaran islam dan bukan disembelih atas nama selain Allah.
Menyembelih hukumnya wajib (kecuali apabila tidak memungkinkan sepreti dengan tembakan, adapun ketentuannya adalah sebagai berikut:
1)      Bagi binatang yang dapat disembelih lehernya;
2)      Memutuskan hulkom (tenggorokan) yaitu saluran pernafasan;
3)      Memutuskan mari’ (tekak) yaitu saluran temat mengalirnya makanan.
Sedangkan syarat-syarat penyembelihan adalah yang akan dijelaskan sebagai berikut: Orang islam atau ahli kitab, menyembelihnya harus dengan sengaja, tidak dengan main-main, artinya disertai niat karena Allah dan alat penyembelihan (pisaunya, goloknya) harus tajam.

 HUKUM QURBAN DAN AQIQAH
Melaksanakan ibadah qurban dan aqiqah amat digalakkan oleh Islam kerana fadilatnya cukup besar. Kaedah melaksanakan kedua-dua ibadah ini hampir sama dari segi hukum dan syarat-syaratnya walaupun terdapat beberapa perbedaan.

Menurut Imam Khatib Syarbini dalam kitabnya, Mughni al-Muhtaj, hukum ibadat qurban adalah sunat muakkad. Bagi yang bernazar, ia akan menjadi wajib, manakala makruh bagi mereka yang sengaja meninggalkannya sedangkan berkemampuan untuk melaksanakannya.
Namun begitu, ibadah qurban adalah wajib ke atas Nabi Muhammad s.a.w. seperti mana yang terdapat dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Imam Termizi bermaksud: "Diwajibkan ke atasku melaksanakan ibadah korban namun ia merupakan suatu amalan sunat bagi kamu."
Aqiqah menurut Imam al-Syarbini dalam kitabnya, al-Iqnaa ialah binatang yang disembelih pada hari kelahiran bayi dan sewaktu mencukur rambut bayi tersebut. Hukum ibadah akikah adalah sunat muakkad seperti mana ibadah korban.
"Namun, ibadah qurban dan aqiqah akan bertukar menjadi wajib sekiranya seseorang itu bernazar untuk melakukannya. Islam menetapkan keadaan dan masa tertentu bagi memastikan ibadah korban dan akikah dapat dilaksanakan sah di sisi syarak," jelas pensyarah Fakulti Undang-undang dan Syariah, Kolej Universiti Islam Malaysia (KUIM), Wan Abdul Fattah Wan Ismail.
Menurut beliau, terdapat beberapa kekeliruan yang sering timbul antara ibadah qurban dan aqiqah khususnya dalam kes menggabungkan niat qurban dan aqiqah sekali gus. Dalam kitab Tuhfah dan al-Fatawa al-Kubra, Ibn Hajar al-Haitami menyatakan bahawa: "Jika seseorang itu berniat ibadah qurban dan aqiqah ke atas seekor kambing sekali gus maka kedua-duanya dianggap sebagai batal." Ini kerana qurban dan aqiqah mengandungi makna sunat yang tersendiri.
Ibadah qurban bertujuan untuk membersihkan diri mereka daripada melakukan dosa, manakala aqiqah adalah sebagai tanda menyambut kelahiran bayi.

Selain itu, persoalan yang turut mengelirukan ialah sama ada perlu atau tidak orang yang berqurban menyaksikan sendiri penyembelihan haiwan tersebut. Rasulullah s.a.w. bersabda dalam hadis yang diriwayatkan oleh al-Hakim bermaksud: "Wahai Fatimah! Berdirilah di sisi korbanmu dan saksikan ia sesungguhnya titisan darahnya yang pertama itu pengampunan bagimu atas dosa-dosamu yang telah lalu."
Hadis di atas tidak menunjukkan bahawa ia adalah satu kemestian untuk menyaksikan ibadah qurban dan akan terbatalnya ibadah tersebut sekiranya tidak berbuat demikian.
"Dengan kata lain, ibadah qurban dan aqiqah boleh dilaksanakan secara berwakil bagi pihak yang ingin melaksanakan qurban dan aqiqah sekalipun mereka tidak ada bersama-sama ditempat ibadah tersebut dilaksanakan, " jelas al-Hakim.
Terdapat banyak kelebihan dalam mengerjakan ibadah qurban dan aqiqah seperti mana yang terkandung dalam surah al-Kauthar, ayat dua bermaksud: "Maka dirikanlah solat kerana Tuhanmu dan berqurbanlah. "
Dengan melaksanakan ibadah qurban juga dapat menangkis jiwa manusia dari pada sikap kedekut dan bakhil. Sebaliknya dapat melahirkan perasaan kasih sayang sesama Muslim dengan menghulurkan bantuan kepada mereka yang memerlukan. Firman Allah s.w.t. dalam surah al-Haj ayat 36: "Dan telah Kami jadikan unta-unta itu sebahagian daripada syiar Allah, kamu memperoleh kebaikan yang banyak daripadanya, maka sebutlah nama Allah ketika kamu menyembelihnya dalam keadaan berdiri (dan telah diikat).
Kemudian apabila telah roboh (mati), maka makanlah sebahagiannya dan beri makanlah orang yang rela dengan apa yang ada padanya (yang tidak meminta-minta) dan orang yang meminta. Demikianlah Kami telah menundukkan unta-unta itu kepada kamu, mudah-mudahan kamu bersyukur."
Kelebihan mengerjakan ibadah aqiqah dalam kitab Sabila al-Muhtadin, Imam Ahmad menyebut, anak-anak yang tidak dilaksanakan akikah tidak akan datang pada hari kiamat untuk memohon syafaat bagi kedua ibu bapanya.
Seperti yang diketahui, ibadah qurban dan aqiqah selain memenuhi tuntutan agama ia juga sebagai pemangkin untuk mengembangkan syiar Islam. Ini termaktub dalam matlamat utama ibadah ini dilakukan iaitu untuk membantu fakir miskin dan golongan yang kurang bernasib baik di kalangan umat Islam.
"Tetapi, apa yang dapat dilihat pada hari ini, di sesetengah tempat, ibadah qurban dan aqiqah telah bertukar menjadi adat kerana syariatnya tidak dipenuhi. Daging-daging tidak diagihkan dengan betul dan dimasak seolah-olah kenduri biasa.
"Sebenarnya, begitu ramai pihak yang ingin melakukan ibadah tersebut semata-mata untuk membantu orang yang kurang berkemampuan. Ini mungkin disebabkan mereka tidak mengetahui secara khusus tentang kaedah pengagihan yang diamalkan sekarang," ujarnya.
Bagi memastikan ibadah qurban dilaksanakan dengan sistematik khususnya melibatkan pengagihan, sewajarnya ia diberikan kepada penganjur yang boleh mengendalikannya dengan adil dan telus.
"Maka dengan mengadakan program dan akikah di tempat yang umat Islam tertindas seperti Kemboja, Palestin dan Iraq amat bertepatan dengan matlamat ibadah tersebut iaitu membantu umat Islam yang tertindas dan hidup dalam kemiskinan. Secara tidak langsung, ia dapat meningkatkan hubungan persaudaraan di kalangan umat Islam.


       SYARAT  KURBAN DAN AKHIKAH
1.     Untuk dijadikan ibadah qurban wajib ataupun sunat adalah disyaratkan dia mampu melaksanakannya.
2.    Orang yang dianggap mampu ialah mereka yang mempunyai harga untuk binatang qurban yang lebih daripada keperluannya dan keperluan mereka yang di bawah tanggungannya untuk hari raya dan hari–hari tasyrik kerana inilah tempoh masa bagi melakukan qurban tersebut.
3.    Kedudukannya sama seperti dalam masalah zakat fitrah, mereka mensyaratkan ia hendaklah merupakan yang lebih daripada keperluan seseorang juga keperluan mereka yang di bawah tanggungannya pada hari raya puasa dan juga malamnya sahaja.
Hendaklah binatang yang diqurbankan itu tidak mempunyai sebarang kecacatan yang menyebabkan kekurangan kuantiti dagingnya ataupun menyebabkan kemudharatan terhadap kesihatan. Contohnya cacat yang teruk pada salah satu matanya, berpenyakit yang teruk, tempang atau kurus yang melampau.

Hendaklah qurban itu dalam masa yang tertentu iaitu selepas sembahyang Hari Raya Haji pada 10 Zulhijjah hingga sebelum terbenam matahari pada akhir Hari Tasyrik iaitu pada 13 Zulhijjah.

Hendaklah disembelih oleh orang Islam.
Orang yang berkongsi mengorbankan unta atau lembu tidak lebih dari tujuh orang di mana masing–masing menyumbang 1/7 bahagian.
 
Syarat Berqurban
1.     Islam.
2.    Merdeka.
3.    Aqil Baligh.
4.    Bermukim atau Musafir.
5.    Berkemampuan.
6.    Berniat ‘aqiqah ketika menyembelih.
Hendaklah binatang tersebut tidak ada cacat yang boleh mengurangkan dagingnya serta sampai umur. 

 PERKARA SUNAT SEMASA ‘AQIQAH
Berdoa semasa hendak menyembelih:

 بِسْمِ اللهِ ، اَللهُ أَكْبَرُ ، اَللَّهُمَّ هَذَا مِنْكَ وَإِلَيْكَ عَقِيْقَةٌ ... (sebut nama anak)
Artinya:
"Dengan nama Allah, Allah Maha Besar. Ya Allah, binatang ini daripada-Mu dan kembali kepada-Mu, ini ‘aqiqah…".

·         Menyembelih ketika matahari sedang naik.
·         Daging ‘aqiqah dimasak terlebih dahulu sebelum disedekahkan.
·         Tidak mematah-matahkan tulang-tulang daripada binatang ‘aqiqah, hanya mencerai-ceraikan sendi-sendinya.
·         Menyedekahkan daging ‘aqiqah kepada fakir miskin.
·         Memasak daging ‘aqiqah dengan cara gulai manis untuk dihidangkan kepada tetamu. 

PERKARA YANG PERLU DILAKUKAN KETIKA MENYAMBUT KELAHIRAN ANAK.
·         Mengazankan di telinga sebelah kanan anak yang baru lahir.
·         Membaca iqamah di telinga sebelah kirinya.
·         Membaca doa di kedua-dua belah telinganya, contohnya membaca surah Al-Ikhlas. 
·         Menyapu lelangit kanak-kanak tersebut dengan benda-benda yang manis seperti buah tamar atau pisang.
·         Menamakan kanak-kanak tersebut dengan nama-nama yang baik pada hari ketujuh kelahirannya. 
·         Mengadakan jamuan dan doa kesyukuran sempena kelahirannya.
·         Mencukur rambut kanak-kanak tersebut selepas menyembelih ‘aqiqah untuknya.
·         Memberi sedekah emas atau perak seberat rambut kanak-kanak yang dicukur itu atau wang yang sama nilai dengan emas atau perak tersebut.
·         Menyedekahkan daging ‘aqiqah kepada fakir miskin.

HUKUM DAGING QURBAN
Qurban yang wajib iaitu yang dinazarkan ataupun yang ditentukan sama ada dengan menyebut, “Ini adalah qurban”, maka orang yang berqurban tidak boleh memakannya. Dia wajib menyedekahkan semuanya sekali.
Anak kepada binatang qurban yang ditentukan juga, perlu disembelih seperti ibunya, tetapi bezanya ia boleh dimakan kesemuanya oleh tuan yang mengurbankannya kerana disamakan dengan hukum susu, kerana tuannya harus meminum susu binatang qurban yang selebih daripada anaknya walaupun perbuatan itu makruh.

Bagi qurban sunat, maka tuannya sunat memakannya, iaitu yang afdhalnya dia hendaklah memakannya beberapa suap sebagai mengambil berkat. Ini bersesuaian  dengan firman Allah subhanahu wata‘ala:
{ فَكُلُواْ مِنْهَا وَأَطْعِمُواْ الْبَآئِسَ الْفَقِيرَ }
Artinya:
“Dengan yang demikian makanlah kamu dari (daging) binatang-binatang qurban itu dan berilah makan kepada orang yang susah, yang fakir miskin.”
(Surah Al-Hajj, 22:28)
Hadith yang diriwayatkan oleh Al-Bayhaqi pula ada menyebut bahawa Rasulullah sallallahu ‘alayhi wasallam telah memakan sebahagian daripada hati binatang qurbannya. Hukum memakan daging qurban pula tidak wajib, ini berdasarkan firman Allah subhanahu wata‘ala:
{ وَالْبُدْنَ جَعَلْنَهَا لَكُم مِّن شَعَآئِرِ اللَّهِ لَكُمْ فِيهَا خَيْرٌ }
Artinya:
“Dan Kami jadikan unta (yang dihadiahkan kepada fakir miskin Makkah itu) sebahagian dari syi‘ar agama Allah untuk kamu; pada menyembelih unta yang tersebut ada kebaikan bagi kamu.”
(Surah Al-Hajj, 22:36)
Dalam ayat ini Allah menjelaskan bahawa ia dijadikan untuk kita. Setiap perkara yang dijadikan untuk manusia, maka dia diberi pilihan sama ada mahu memakannya atau tidak.
Orang yang berqurban juga boleh menjamu kepada kalangan yang kaya, tetapi tidak boleh diberi milik kepada mereka. Yang boleh cuma dihantar kepada mereka sebagai hadiah yang mana mereka tidak akan menjualnya atau sebagainya.

Mengikut pendapat dalam qawl jadid, orang yang berqurban boleh memakan sebagian dari pada qurbannya. Mengikut qawl qadim pula harus memakan sebanyak separuh, manakala bakinya hendaklah disedekahkan.
Sebaagian ulama’ berpendapat daging qurban dibahagikan kepada tiga bahagian iaitu 1/3 daging disedekahkan dalam keadaan mentah, 1/3 daging dimasak dan dibuat jamuan dan 1/3 daging dimakan oleh orang yang berqurban.
Pendapat yang asah pula, adalah wajib bersedekah dengan sebahagian daripada daging qurban walaupun sedikit kepada orang Islam yang fakir walaupun seorang. Walaubagaimanapun, yang lebih afdhal hendaklah disedekahkan kesemuanya kecuali memakannya beberapa suap untuk mengambil keberkatan seperti yang telah dijelaskan.
Bagi qurban sunat pula, orang yang berqurban boleh sama ada bersedekah dengan kulit binatang tersebut atau menggunakan sendiri, seperti mana dia harus mengambil faedah daripada binatang itu semasa hidupnya. Tetapi bersedekah adalah lebih afdhal. Bagi qurban yang wajib  pula, kulit binatang itu wajib disedekahkan.
Qurban juga tidak harus dibawa keluar dari negeri asalnya sebagaimana yang ditetapkan dalam masalah membawa keluar zakat.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Blogroll

Followers

Site Info

Pages

adsbanner

Blogger templates