QURBAN DAN AQIQAH
A. QURBAN
Menurut bahasa, qurban berarti mendekatkan diri. Sedangkan menurut istilah,
qurban berarti menyembelih hewan pada hari raya idul Adha dan hari tasyrik,
yaitu tanggal 11,12 dan 13 Zulhijjah dengan maksud beribadah kepada Allah Swt.
Qurban merupakan istilah yang menunjukkan tujuan dari suatu ibadah, yaitu
mendekatkan diri kepada Allah. Dalam ilmu fiqih, selain istilah qurban terdapat
beberapa istilah lainnya, yaitu nahr dan udiyah.yang memiliki arti yang hamper
sama, yaitu az zabhu atau menyembelih hewan. Dua istilah ini lebih menunjukkan
praktek ibadah kurbanyang disari’atkan, waktu pelaksanaan ibadah ini disebut
yaumun nahri atau lebih dikenal dengan Idul Adha. Dalil yang mengsariatkannya qurban
adalah firman Allah. QS A-kausar 108: 1-2
“Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu nikmat yang banyak. Maka
dirikanlah shalat karena Tuhanmu; dan berqurbanlah.” QS A-kausar: 1-2
a. Ketentuan Qurban
1.
jenis hewan qurban
hewan yang sah untuk diqurbankan adalah hewan yang tidak cacat, baik karena
pincang, sangat kurus, putus telinganya, putus ekornya, atau kerena sakit.
Tidak semua hewan dapat digunakan untuk qurban. Hewan yang dugunakan untuk qurban
teah ditentukan jenis-jenisnya, yaitu:
1. Domba, yang
telah berumur 1 tahun atau lebih.
2. Kambing,
minimal berumur 2 tahun atau sudah berganti gigi
3. Sapi dan Kerbau, minimal berumur
2 tahun.
4. Unta, minimal berumur 5 tahun.
2. Waktu Pelaksanaan Qurban
Melaksanakan ibadah qurban hanya boleh dilakukan
pada tanggal 10 Zulhijjah dan hari tasyrik, yaitu tanggal 11, 12 dan 13
zulhijjah.dimulai sejak selesai shalat Idul Adha sampai menjelang matahari
terbenam tanggal 13 zulhijjah.
3. Cara Pembagian Daging Qurban
Hewan qurban yang telah disembelih, tidak lebih
dari 1/3 dagingnya boleh diambil oleh orang yang berqurban. Sedang yang lainnya
dibagikan kepada mustahik qurban
4. Berqurban Secara Jama’i
Berqurban jama’i adalah berqurban dimana seekor hewan
untuk beberapa orang. Berqurban secara jama’i juga pernah dilakukan oleh Nabi
dan para sahabat, yaitu dengan ketentuan seekor sapi, kerbau atau unta untuk
maksimal tujuh orang. Praktek pelaksanaan qurban secara jama’i biasanya sering dilakukan pada kantor
tertentu atau rumah tertentu.
B. AQIQAH
Menurut bahasa, aqiqah berarti menyembelih atau memotong. Sedangkan menurut
istilah, aqiqah adalah menyembelih hewan sebagai rasa syukur kepada Allah atas
kelahiran anak. Penyembelihan hewan aqiqahini disertai dengan pencukuran rambut
anak dan pemberian nama jika dilaksanakan sebelum diberikan nama.
a. Ketentuan Aqiqah
1.
Jenis Hewan Aqiqah
Dan Jumlahnya
Sebagai hewan qurban, hewan aqiqah disyaratkan tidak cacat. Hanya saja,
jika pada qurban ada beberapa jenis hewan, pada aqiqah hanya ada satu jenis
hewan, yaitu kambing, baik kambing biasa, domba atau biri-biri. Adapun
jumlanya, dua ekor untuk eorang anak laki-laki, dan seekor untuk anak peremuan.
2.
Waktu
Pelaksanaan Aqiqah
Waktu pelaksanaan aqiqah adalah pada hari ketujuh dari kelahiran anak,
sehingga waktu ini disebut sebagai waktu terbaik untuk pelaksanaan aqiqah,
namun juga bisa dilakukan ada haru ke empat belas dan pada hari ke dua puluh
satu dari kelahiran bayi.
3.
Cara Pembagian
Daging Aqiqah
Daging aqiqah dibagikan setelah dimasak terlebih dahulu dan anak yang di aqiqahkan
tidak boleh memakan daging aqiqah tersebut. Namun bagi anggota keluarga lainnya
dibolehkan mengambil bagian seperlunya. Dalam praktek di masyarakat, terdapat
dua cara pembagian aqiqah, yaitu melalui walimah yaitu sejenis jamuan syukuran
dengan mengundang kerabat dan tetangga,dan bisa berupa maksakan daging aqiqah
lengkap dengan nasi dan lauk pauk.
B.
Melaksanakan
Qurban Dan Aqiqah
Meskipun hukum qurban dan aqiqah ini sunah, tetapi sunah muakadah (sunah
yang amat dianjurkan untuk dilaksanakan) bagi orang-orang yang mampu. Ibadah
qurban dan aqiqah ini selain besar pahalanya di sisi Allah Swt. Juga sangat
erat kaitannya dengan aspek kemanusiaan Khusus untuk aqiqah hanya dianjurkan
satu kali seumur hidup.
C.
Penyembelihan
Binatang-binatang halal menurut syara’, dagingnya akan halal dimakan
apabila disembelih menurut ketentuan ajaran islam dan bukan disembelih atas
nama selain Allah.
Menyembelih hukumnya wajib (kecuali apabila tidak memungkinkan sepreti
dengan tembakan, adapun ketentuannya adalah sebagai berikut:
1)
Bagi binatang yang dapat disembelih
lehernya;
2) Memutuskan hulkom (tenggorokan)
yaitu saluran pernafasan;
3) Memutuskan mari’ (tekak) yaitu
saluran temat mengalirnya makanan.
Sedangkan syarat-syarat penyembelihan adalah yang
akan dijelaskan sebagai berikut: Orang islam atau ahli kitab, menyembelihnya
harus dengan sengaja, tidak dengan main-main, artinya disertai niat karena
Allah dan alat penyembelihan (pisaunya, goloknya) harus tajam.
HUKUM QURBAN DAN AQIQAH
Melaksanakan ibadah qurban dan aqiqah
amat digalakkan oleh Islam kerana fadilatnya cukup besar. Kaedah melaksanakan
kedua-dua ibadah ini hampir sama dari segi hukum dan syarat-syaratnya walaupun
terdapat beberapa perbedaan.
Menurut Imam Khatib Syarbini dalam
kitabnya, Mughni al-Muhtaj, hukum ibadat qurban adalah sunat muakkad. Bagi yang
bernazar, ia akan menjadi wajib, manakala makruh bagi mereka yang sengaja
meninggalkannya sedangkan berkemampuan untuk melaksanakannya.
Namun begitu, ibadah qurban adalah
wajib ke atas Nabi Muhammad s.a.w. seperti mana yang terdapat dalam sebuah
hadis yang diriwayatkan oleh Imam Termizi bermaksud: "Diwajibkan ke atasku
melaksanakan ibadah korban namun ia merupakan suatu amalan sunat bagi
kamu."
Aqiqah menurut Imam al-Syarbini dalam
kitabnya, al-Iqnaa ialah binatang yang disembelih pada hari kelahiran bayi dan
sewaktu mencukur rambut bayi tersebut. Hukum ibadah akikah adalah sunat muakkad
seperti mana ibadah korban.
"Namun, ibadah qurban dan aqiqah
akan bertukar menjadi wajib sekiranya seseorang itu bernazar untuk
melakukannya. Islam menetapkan keadaan dan masa tertentu bagi memastikan ibadah
korban dan akikah dapat dilaksanakan sah di sisi syarak," jelas pensyarah
Fakulti Undang-undang dan Syariah, Kolej Universiti Islam Malaysia (KUIM), Wan
Abdul Fattah Wan Ismail.
Menurut
beliau, terdapat beberapa kekeliruan yang sering timbul antara ibadah qurban
dan aqiqah khususnya dalam kes menggabungkan niat qurban dan aqiqah sekali gus.
Dalam kitab Tuhfah dan al-Fatawa al-Kubra, Ibn Hajar al-Haitami menyatakan
bahawa: "Jika seseorang itu berniat ibadah qurban dan aqiqah ke atas
seekor kambing sekali gus maka kedua-duanya dianggap sebagai batal." Ini
kerana qurban dan aqiqah mengandungi makna sunat yang tersendiri.
Ibadah qurban bertujuan untuk
membersihkan diri mereka daripada melakukan dosa, manakala aqiqah adalah
sebagai tanda menyambut kelahiran bayi.
Selain itu, persoalan yang turut
mengelirukan ialah sama ada perlu atau tidak orang yang berqurban menyaksikan
sendiri penyembelihan haiwan tersebut. Rasulullah s.a.w. bersabda dalam hadis
yang diriwayatkan oleh al-Hakim bermaksud: "Wahai Fatimah! Berdirilah di
sisi korbanmu dan saksikan ia sesungguhnya titisan darahnya yang pertama itu
pengampunan bagimu atas dosa-dosamu yang telah lalu."
Hadis di atas tidak menunjukkan bahawa
ia adalah satu kemestian untuk menyaksikan ibadah qurban dan akan terbatalnya
ibadah tersebut sekiranya tidak berbuat demikian.
"Dengan kata lain, ibadah qurban
dan aqiqah boleh dilaksanakan secara berwakil bagi pihak yang ingin
melaksanakan qurban dan aqiqah sekalipun mereka tidak ada bersama-sama ditempat
ibadah tersebut dilaksanakan, " jelas al-Hakim.
Terdapat banyak kelebihan dalam
mengerjakan ibadah qurban dan aqiqah seperti mana yang terkandung dalam surah
al-Kauthar, ayat dua bermaksud: "Maka dirikanlah solat kerana Tuhanmu dan
berqurbanlah. "
Dengan melaksanakan ibadah qurban juga
dapat menangkis jiwa manusia dari pada sikap kedekut dan bakhil. Sebaliknya
dapat melahirkan perasaan kasih sayang sesama Muslim dengan menghulurkan
bantuan kepada mereka yang memerlukan. Firman Allah s.w.t. dalam surah al-Haj
ayat 36: "Dan telah Kami jadikan unta-unta itu sebahagian daripada syiar
Allah, kamu memperoleh kebaikan yang banyak daripadanya, maka sebutlah nama
Allah ketika kamu menyembelihnya dalam keadaan berdiri (dan telah diikat).
Kemudian apabila telah roboh (mati),
maka makanlah sebahagiannya dan beri makanlah orang yang rela dengan apa yang
ada padanya (yang tidak meminta-minta) dan orang yang meminta. Demikianlah Kami
telah menundukkan unta-unta itu kepada kamu, mudah-mudahan kamu bersyukur."
Kelebihan mengerjakan ibadah aqiqah
dalam kitab Sabila al-Muhtadin, Imam Ahmad menyebut, anak-anak yang tidak
dilaksanakan akikah tidak akan datang pada hari kiamat untuk memohon syafaat
bagi kedua ibu bapanya.
Seperti yang diketahui, ibadah qurban
dan aqiqah selain memenuhi tuntutan agama ia juga sebagai pemangkin untuk
mengembangkan syiar Islam. Ini termaktub dalam matlamat utama ibadah ini
dilakukan iaitu untuk membantu fakir miskin dan golongan yang kurang bernasib
baik di kalangan umat Islam.
"Tetapi, apa yang dapat dilihat
pada hari ini, di sesetengah tempat, ibadah qurban dan aqiqah telah bertukar
menjadi adat kerana syariatnya tidak dipenuhi. Daging-daging tidak diagihkan
dengan betul dan dimasak seolah-olah kenduri biasa.
"Sebenarnya, begitu ramai pihak
yang ingin melakukan ibadah tersebut semata-mata untuk membantu orang yang
kurang berkemampuan. Ini mungkin disebabkan mereka tidak mengetahui secara
khusus tentang kaedah pengagihan yang diamalkan sekarang," ujarnya.
Bagi memastikan ibadah qurban
dilaksanakan dengan sistematik khususnya melibatkan pengagihan, sewajarnya ia
diberikan kepada penganjur yang boleh mengendalikannya dengan adil dan telus.
"Maka dengan mengadakan program
dan akikah di tempat yang umat Islam tertindas seperti Kemboja, Palestin dan
Iraq amat bertepatan dengan matlamat ibadah tersebut iaitu membantu umat Islam
yang tertindas dan hidup dalam kemiskinan. Secara tidak langsung, ia dapat
meningkatkan hubungan persaudaraan di kalangan umat Islam.
1.
Untuk dijadikan ibadah qurban wajib
ataupun sunat adalah disyaratkan dia mampu melaksanakannya.
2.
Orang yang dianggap mampu ialah mereka
yang mempunyai harga untuk binatang qurban yang lebih daripada keperluannya dan
keperluan mereka yang di bawah tanggungannya untuk hari raya dan hari–hari
tasyrik kerana inilah tempoh masa bagi melakukan qurban tersebut.
3.
Kedudukannya sama seperti dalam masalah
zakat fitrah, mereka mensyaratkan ia hendaklah merupakan yang lebih daripada
keperluan seseorang juga keperluan mereka yang di bawah tanggungannya pada hari
raya puasa dan juga malamnya sahaja.
Hendaklah binatang yang diqurbankan itu tidak mempunyai sebarang kecacatan yang menyebabkan kekurangan kuantiti dagingnya ataupun menyebabkan kemudharatan terhadap kesihatan. Contohnya cacat yang teruk pada salah satu matanya, berpenyakit yang teruk, tempang atau kurus yang melampau.
Hendaklah binatang yang diqurbankan itu tidak mempunyai sebarang kecacatan yang menyebabkan kekurangan kuantiti dagingnya ataupun menyebabkan kemudharatan terhadap kesihatan. Contohnya cacat yang teruk pada salah satu matanya, berpenyakit yang teruk, tempang atau kurus yang melampau.
Hendaklah qurban itu
dalam masa yang tertentu iaitu selepas sembahyang Hari Raya Haji pada 10 Zulhijjah
hingga sebelum terbenam matahari pada akhir Hari Tasyrik iaitu pada 13
Zulhijjah.
Hendaklah disembelih oleh orang Islam.
Hendaklah disembelih oleh orang Islam.
Orang yang berkongsi
mengorbankan unta atau lembu tidak lebih dari tujuh orang di mana masing–masing
menyumbang 1/7 bahagian.
Syarat
Berqurban
1.
Islam.
2.
Merdeka.
3.
Aqil Baligh.
4.
Bermukim atau Musafir.
5.
Berkemampuan.
6.
Berniat ‘aqiqah ketika menyembelih.
Hendaklah
binatang tersebut tidak ada cacat yang boleh mengurangkan dagingnya serta
sampai umur.
PERKARA SUNAT SEMASA ‘AQIQAH
Berdoa semasa hendak menyembelih:
Berdoa semasa hendak menyembelih:
بِسْمِ اللهِ ، اَللهُ أَكْبَرُ ، اَللَّهُمَّ هَذَا مِنْكَ وَإِلَيْكَ عَقِيْقَةٌ ... (sebut nama anak)
Artinya:
"Dengan nama Allah, Allah Maha Besar. Ya Allah, binatang ini daripada-Mu dan kembali kepada-Mu, ini ‘aqiqah…".
"Dengan nama Allah, Allah Maha Besar. Ya Allah, binatang ini daripada-Mu dan kembali kepada-Mu, ini ‘aqiqah…".
·
Menyembelih ketika matahari sedang
naik.
·
Daging ‘aqiqah dimasak terlebih dahulu
sebelum disedekahkan.
·
Tidak mematah-matahkan tulang-tulang
daripada binatang ‘aqiqah, hanya mencerai-ceraikan sendi-sendinya.
·
Menyedekahkan daging ‘aqiqah kepada
fakir miskin.
·
Memasak daging ‘aqiqah dengan cara
gulai manis untuk dihidangkan kepada tetamu.
PERKARA YANG PERLU
DILAKUKAN KETIKA MENYAMBUT KELAHIRAN ANAK.
·
Mengazankan di telinga sebelah kanan
anak yang baru lahir.
·
Membaca iqamah di telinga sebelah
kirinya.
·
Membaca doa di kedua-dua belah
telinganya, contohnya membaca surah Al-Ikhlas.
·
Menyapu lelangit kanak-kanak tersebut
dengan benda-benda yang manis seperti buah tamar atau pisang.
·
Menamakan kanak-kanak tersebut dengan
nama-nama yang baik pada hari ketujuh kelahirannya.
·
Mengadakan jamuan dan doa kesyukuran
sempena kelahirannya.
·
Mencukur rambut kanak-kanak tersebut
selepas menyembelih ‘aqiqah untuknya.
·
Memberi sedekah emas atau perak seberat
rambut kanak-kanak yang dicukur itu atau wang yang sama nilai dengan emas atau
perak tersebut.
·
Menyedekahkan daging ‘aqiqah kepada
fakir miskin.
HUKUM DAGING QURBAN
Qurban yang wajib iaitu yang dinazarkan
ataupun yang ditentukan sama ada dengan menyebut, “Ini adalah qurban”, maka
orang yang berqurban tidak boleh memakannya. Dia wajib menyedekahkan semuanya
sekali.
Anak kepada binatang qurban yang
ditentukan juga, perlu disembelih seperti ibunya, tetapi bezanya ia boleh
dimakan kesemuanya oleh tuan yang mengurbankannya kerana disamakan dengan hukum
susu, kerana tuannya harus meminum susu binatang qurban yang selebih daripada
anaknya walaupun perbuatan itu makruh.
Bagi qurban sunat, maka tuannya sunat
memakannya, iaitu yang afdhalnya dia hendaklah memakannya beberapa suap sebagai
mengambil berkat. Ini bersesuaian dengan firman Allah subhanahu wata‘ala:
{ فَكُلُواْ مِنْهَا وَأَطْعِمُواْ الْبَآئِسَ الْفَقِيرَ }
Artinya:
“Dengan yang demikian makanlah kamu dari (daging) binatang-binatang qurban itu dan berilah makan kepada orang yang susah, yang fakir miskin.”
(Surah Al-Hajj, 22:28)
{ فَكُلُواْ مِنْهَا وَأَطْعِمُواْ الْبَآئِسَ الْفَقِيرَ }
Artinya:
“Dengan yang demikian makanlah kamu dari (daging) binatang-binatang qurban itu dan berilah makan kepada orang yang susah, yang fakir miskin.”
(Surah Al-Hajj, 22:28)
Hadith yang diriwayatkan oleh
Al-Bayhaqi pula ada menyebut bahawa Rasulullah sallallahu ‘alayhi wasallam
telah memakan sebahagian daripada hati binatang qurbannya. Hukum memakan daging
qurban pula tidak wajib, ini berdasarkan firman Allah subhanahu wata‘ala:
{ وَالْبُدْنَ جَعَلْنَهَا لَكُم مِّن شَعَآئِرِ اللَّهِ لَكُمْ فِيهَا خَيْرٌ }
Artinya:
“Dan Kami jadikan unta (yang dihadiahkan kepada fakir miskin Makkah itu) sebahagian dari syi‘ar agama Allah untuk kamu; pada menyembelih unta yang tersebut ada kebaikan bagi kamu.”
(Surah Al-Hajj, 22:36)
{ وَالْبُدْنَ جَعَلْنَهَا لَكُم مِّن شَعَآئِرِ اللَّهِ لَكُمْ فِيهَا خَيْرٌ }
Artinya:
“Dan Kami jadikan unta (yang dihadiahkan kepada fakir miskin Makkah itu) sebahagian dari syi‘ar agama Allah untuk kamu; pada menyembelih unta yang tersebut ada kebaikan bagi kamu.”
(Surah Al-Hajj, 22:36)
Dalam ayat ini Allah menjelaskan bahawa
ia dijadikan untuk kita. Setiap perkara yang dijadikan untuk manusia, maka dia
diberi pilihan sama ada mahu memakannya atau tidak.
Orang yang berqurban juga boleh menjamu
kepada kalangan yang kaya, tetapi tidak boleh diberi milik kepada mereka. Yang
boleh cuma dihantar kepada mereka sebagai hadiah yang mana mereka tidak akan
menjualnya atau sebagainya.
Mengikut pendapat dalam qawl jadid,
orang yang berqurban boleh memakan sebagian dari pada qurbannya. Mengikut qawl
qadim pula harus memakan sebanyak separuh, manakala bakinya hendaklah
disedekahkan.
Sebaagian ulama’ berpendapat daging
qurban dibahagikan kepada tiga bahagian iaitu 1/3 daging disedekahkan dalam
keadaan mentah, 1/3 daging dimasak dan dibuat jamuan dan 1/3 daging dimakan
oleh orang yang berqurban.
Pendapat yang asah pula, adalah wajib
bersedekah dengan sebahagian daripada daging qurban walaupun sedikit kepada
orang Islam yang fakir walaupun seorang. Walaubagaimanapun, yang lebih afdhal
hendaklah disedekahkan kesemuanya kecuali memakannya beberapa suap untuk
mengambil keberkatan seperti yang telah dijelaskan.
Bagi qurban sunat pula, orang yang berqurban boleh sama ada bersedekah dengan kulit binatang tersebut atau menggunakan sendiri, seperti mana dia harus mengambil faedah daripada binatang itu semasa hidupnya. Tetapi bersedekah adalah lebih afdhal. Bagi qurban yang wajib pula, kulit binatang itu wajib disedekahkan.
Bagi qurban sunat pula, orang yang berqurban boleh sama ada bersedekah dengan kulit binatang tersebut atau menggunakan sendiri, seperti mana dia harus mengambil faedah daripada binatang itu semasa hidupnya. Tetapi bersedekah adalah lebih afdhal. Bagi qurban yang wajib pula, kulit binatang itu wajib disedekahkan.
Qurban juga tidak harus dibawa keluar
dari negeri asalnya sebagaimana yang ditetapkan dalam masalah membawa keluar
zakat.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar